DOWNLOAD FILE SNI (Standart Nasional Indonesia)


SNI_Tata cara perencanaan sistem protekasi pasif untuk pencegahan,..klik disini
SNI-TATA CARA PERENCANAAN STRUKTUR KAYU UNTUK BANGUNAN GEDUNG,..klik disini
SNI-Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung,..klik disini
SNI-Tata Cara Perencanaan Akses Bangunan dan Akses Lingkungan,..klik disini
SNI-Tata Cara Perancangan Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara,..klik disini
SNI-Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Buatan,..klik disini
SNI-STANDAR PERENCANAAN KETAHANAN GEMPA UNTUK STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG,..klik disini
SNI-Sistem Proteksi Petir Bangunan Gedung,..klik disini
SNI-Sistem Plambing,..klik disini
SNI- Tata cara perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung,..klik disini

Download SNI Analisa Biaya Konstruksi dan SNI Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan


SNI Analisa Biaya Konstruksi,...download disini
SNI Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Tanah,...download disini
SNI Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Beton,...download disini
SNI Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Dinding,...download disini
SNI Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Kayu,...download disini
SNI Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Pondasi,...download disini
SNI Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Plesteran,...download disini
SNI Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Penutup Lantai dan Dinding,...download disini
SNI Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Besi dan Aluminium,...download disini
SNI Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan Langit-Langit,...download disini

Tata Akustik Bangunan dan Akustik Ruang dalam Arsitektural

Kenyamanan dalam lingkungan buatan dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok utama yakni kenyamanan audio, kenyamanan visual, dan kenyamanan thermal. Kenyamanan audio dapat dicapai melalui perancangan akustik dan perancangan tata usaha yang diambil melalui berbagai pertimbangan teknis dan teknologi. Perancangan akustik ruang ditujukan untuk menghasilkan kondisi akustik optimal di dalam ruangan sesuai dengan fungsi ruangan itu sendiri, misalnya rumah tinggal, audiotorium, aula, concert hall, ruang studio, ruang konferensi, tempat ibadah, rumah sakit dan lainnya.
Perkembangan kehidupan manusia di berbagai bidang, sejak dimulainya revolusi industri menyebabkan banyak sekali mesin dan sumber-sumber lain yang dapat mengganggu pendengaran manusia. Gangguan bunyi tersebut akan menyebabkan berbagai ketidaknyamanan bagi manusia seperti terganggunya fungsi telinga, kinerja jantung dan buruknya peredaran dara, daya perut dan pencernaan, lebih kompleks lagi gangguan ini menyebabkan beban berat untuk jaringan sarag dan merusak hubungan antar manusia.
Pemberantasan gangguan bunyi dapat dilakukan dengan cara aktif dan pasif. Pemberantasan aktif dilakukan langsung terhadap sumber bunyi itu sendiri, agar tidak menyebar kemana-mana. Sedang secara pasif dilakukan dengan mengurangi loncatan-loncatan gangguan bunyi yang datang dari suatu sumber dan yang dilakukan pada ruangan atau benda yang ingin dilindungi dari gangguan bunyi tersebut.
Pada bangunan penataan bunyi sendiri memiliki dua tujuan, yakni untuk kesehatan yang bersifat mutlak maupun kenikmatan yang sifatnya diusahakan. Beberapa elemen yang harus dipahami arsitek berkenaan dengan tata akustik adalah sumber bunyi, penerima bunyi, media dan gelombang bunyi. Pemahaman akan hal ini akan memudahkan arsitek untuk membayangkan sifat-sifat bunyi dan perilakunya dalam rancangan arsitektural.

,..........................................
untuk membaca artikel ini lebih lanjutb silahkan download disini

Cahaya Matahari Dalam Kaitan Kenyamanan Arsitektur Tropis Indonesia

Salah satu alasan mengapa manusia membuat bangunan adalah karena kondisi alam iklim tempat manusia berada tidak selalu baik untuk menunjang segala aktivitas yang diperlukan dan dilakukannya. Banyaknya variasi perilaku manusia menjadikan proses adaptasi terhadap bangunan pun bisa bervariasi pula. Untuk melangsungkan aktivitas kantor, misalnya, diperlukan ruang dengan kondisi visual yang baik dengan intensitas cahaya yang cukup; kondisi termis yang mendukung dengan suhu udara pada rentang-nyaman tertentu; dan kondisi audial dengan intensitas gangguan bunyi rendah yang tidak mengganggu pengguna bangunan.
Karena cukup banyak aktivitas manusia yang tidak dapat diselenggarakan akibat ketidaksesuaian kondisi iklim luar, manusia membuat bangunan. Dengan bangunan, diharapkan iklim luar yang tidak menunjang aktivitas manusia dapat dimodifikasi dan diubah menjadi iklim dalam (bangunan) yang lebih sesuai.
Kemudian mengapa muncul sebutan arsitektur tropis? Seolah-olah jenis arsitektur ini sepadan dengan julukan bagi arsitektur modern, modern baru dan dekonstruksi. Jenis yang disebut belakangan lebih mengarah pada pemecahan estetika seperti bentuk, ritme dan hirarki ruang. Sementara arsitektur tropis, sebagaimana arsitektur tanggap iklim lainynya adalah karya arsitektur yang mencoba memecahkan problematik iklim setempat. Bagaimana problematik iklim tropis tersebut dipecahkan secara desain atau rancangan arsitektur? Jawabannya dapat seribu satu macam. Seperti halnya yang terjadi pada arsitektur sub-tropis misalnya, arsitek dapat menjawab dengan warna pasca-modern, dekonstruksi ataupun High-Tech, sehingga pemahaman tentang arsitektur tropis yang selalu beratap lebar ataupun berteras menjadi tidak mutlak lagi. Yang penting apakah rancangan tersebut sanggup mengatasi problematik iklim tropishujan deras, terik radiasi matahari, suhu udara yang relatif tinggi, kelembapan yang tinggi (untuk tropis basah) ataupun kecepatan angin yang relatif rendah sehingga manusia yang semula tidak nyaman berada di alam terbuka, menjadi nyaman ketika berada di dalam bangunan tropis itu. Bangunan dengan atap lebar mungkin hanya mampu mencegah air hujan untuk tidak masuk bangunan, namun belum tentu mampu menurunkan suhu udara yang tinggi dalam bangunan tanpa disertai pemecahan rancangan lain yang tepat.
Dengan pemahaman semacam ini, kriteria arsitektur tropis tidak perlu lagi hanya dilihat dari sekedar 'bentuk' atau estetika bangunan beserta elemen-elemennya, namun lebih kepada kualitas fisik ruang yang ada di dalamnya: suhu ruang rendah, kelembapan relatif tidak terlalu tinggi, pencahayaan alam cukup, pergerakan udara (angin) memadai, terhindar dari hujan, dan terhindar dari terik matahari. Penilaian terhadap baik atau buruknya sebuah karya arsitektur tropis harus diukur secara kuantitatif menurut kriteria-kriteria fluktuasi suhu ruang (dalam unit derajat Celcius); fluktuasi kelembapan (dalam unit persen); intensitas cahaya (dalam unit lux); aliran atau kecepatan udara (dalam unit meter per detik); adakah air hujan masuk bangunan; serta adakah terik matahari mengganggu penghuni dalam bangunan. Dalam bangunan yang dirancang menurut kriteria seperti ini, pengguna bangunan dapat merasakan kondisi yang lebih nyaman dibanding ketika mereka berada di alam luar.

,................................
untuk membaca artikel ini lebih lanjut silahkan download disini

Desain Gaya Arsitektur Tanggap Lingkungan Iklim Tropis (Analisa Objek Arsitektur Vernakular Jawa: Joglo Lambangsari)

Saat ini di berbagai belahan dunia sudah bukan merupakan baru lagi mengenai wacana perubahan iklim baik secara makro aupun mikro. Sebut saja perubahan suhu yang secara global berakibat berubahnya pola hidup manusia termasuk didalamnya bidang arsitektur. Hal ini ditambah semakin beragamnya material bangunan, yang mungkin semakin hari semakin tidak ramah lingkungan. Tentu hal ini juga membawa dampak dalam pola pengembangan desain arsitektur saat ini.
Di Indonesia sendiri terdapat banyak wacana menarik untuk dikaji lebih lanjut, termasuk dalam bidang desain arsitektur. Dimana ketika kita bicara bangunan di Indonesia seharusnya kita berbicara bangunan yang cocok berada dikawasan tropis yang panas dan lembab. Sehingga muncullah berbagai pertimbangan dalam pembuatannya baik desain bangunan, kondisi alam dan lingkungan, kesesuaian iklim, dan ketersediaan bahan. Namun dewasa ini di Indonesia agaknya bukan itu yang sedang dibumikan. Bukan karakter bangunan tropis yang banyak berdiri di Indonesia melainkan bangunan barat dengan penyesuaian iklim subtropis yang terkesan dipaksakan masuk dengan berbagai bentuk penyesuaian.
Memang sebagai negara berkembang seperti Indonesia, sangat dimaklumi memiliki masyarakat yang gatal teknologi dan selalu ingin mencoba hal baru, tentunya dalam hal ini adalah bidang arsitektur. Beragam gaya arsitektur yang mewabah di Indonesia adalah produk asli bangsa Barat. Sehingga adanya literatur ini cenderung merusak polapikir arsitektur yang Indonesia, dimana kecenderungan literatur tersebut tidak sesuai jika diterapkan di kawasan tropis.
Hegemoni barat saat ini telah mengakar dan beranak pinak sejak dahulu. Sehingga masyarakat timur mulai tercuci otaknya dengan kamuflase idiom-idiom, pemikiran-pemikaran, karya-karya yang mengatakan barat itu maju. Masyarakat timur menjadikan barat sebagai acuan dalam segala bidang. Dalam ranah arsitektur begitu kentara dengan pemakaian teori-teori barat untuk literatur desain, disebutkan sebagai teori-teori yang pakem namun jika diaplikasikan di kawasan ini dibutuhkan beberapa penyesuaian.

,................................
untuk membaca artikel ini dengan lengkap silahkan download disini

Pendekatan Bioklimatik Desain pada Rancangan Arsitektur

I. Prakata
Dalam alam, makhluk hidup akan bersuksesi dengan ekosistemnya dan berupaya mencapai konidsi yang stabil hingga klimaks. Kondisi ini akan terjadi apabila hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya berjalan dengan baik, dalam artian kebutuhan keduannya bisa terpenuhi. Manusia sebagai makhluk hidup juga merupakan ekosistem yang bersuksesi dan ingin hidup stabil serta mencapai klimaks. Namun populasi manusia yang meningkat dengan cepat ditambah dengan majunya perkembangan teknologi, membuat pemanfaaatan sumber daya alam menjadi diluar kontrol. Dalih penggunaan teknologi yang ekonomis malah menimbulkan dampak yang tidak tidak semuanya dapat diterima oleh alam atau bahkan oleh manusianya sendiri.
Contohnya saja penerapan bangunan minimalis yang semakin menjamur belakangan ini. Aliran minimalis memang sedang booming di berbagai negara maju dengan tingkat kesibukan yang cukup tinggi. Tuntutan bentuk simpel dalam desain arsitektur dinilai sesuai dengan life style yang manusia modern yang supersibuk. Mengenai unsur fungsi, kepraktisan dan bahkan kepolosan dari bentuk arsitektural ’dianggap’ mewakili era modern dan global yang identik dengan masyarakat sibuk. Namun gaya minimalis tampaknya sekarang mulai mencapai titik jenuh, terutama disebabkan kelatahan banyak pihak yang menggunakan istilah minimalis pada hampir tiap desain arsitektur tanpa mempertimbangan berbagai hal misal kesesuaian iklim, keberadaan bangunan sekitar, bahkan kenyamanan penghuni.

,.............
untuk membaca artikel ini secara lengkap silahkan download disini

SELAYANG PANDANG MENGENAI FISIKA BANGUNAN

Bangunan yang baik bukanlah bangunan yang lantas dinilai sebagai bentuk apresiasi dari keindahan. Namun lebih dari itu ada yang dinamakan kenyamanan yang lantas menjadi faktor penting sebuah bangunan. Hal ini tentunya tidak lepas dari kenyataan bahwa bangunan harus dapat memenuhi persyatan-persyaratan tertentu, baik dalam kaitanya dengan arsitektur, kekuatan, ketahanan, kenyamanan dan sebagainya. Selain itu, tentunya berdirinya sebuah bangunan tentu memunculkan harapan sebagai tempat yang menyenangkan untuk dihuni dan nyaman untuk melakukan pekerjaan bagi penghuni atau pemakai suatu bangunan.
Penghuni atau pemakai suatu bangunan akan menggunakan ketajaman indranya untuk kemudian merasakan kenyamanan sebuah bangunan, baik dari segi visual, termal, maupun akustik. Dan perlu diingat juga, bahwasanya sikap dan penilaian kalangan professional sangatlah berbeda dengan kaum awam dan pemakai. Pendidikan professional menuntun para perancng (arsitek) untuk memandang dan memikirkan tata lingkungan dengan cara yang berbeda dengan cara yang dipahami sebagian besar orang. Kebanyakan orang adalah pemikir verbal, sedangkan arsitek adalah pemikir visual. Kerena itulah apakah lantas para pemakai bangunan menilai estetika visual seperti apa yang arsitek lakukan, atau apakah arsitek harus membalikkan semua berdasar pada kebutuhan, persepsi, pilihan dan nilai-nilai si pemakai?. Maka tidak jarang arsitek akan menyenangi sebuah gedung karena ‘indah’ nya dan cenderung memaafkan kekurangannya baik dari segi lingkungan alam maupun lingkungan perilaku. Namun pengaruh pancaran estetika ini mungkin akan tidak berlaku bagi sebagian besar kelompok pemakai, dan nyatanya pengutamaan arsitek terhadap estetika diatas faktor fungsional dan kenyamanan mungkin justru kebalikan dari pengutamaan pemakai.

,...............
untuk membaca lengkap artikel ini silahkan download disini